KOPI

Hai Kopi, Senyum berantakanmu selalu memenuhi hidupku, Hai Cangkir, Setiap hari aku tetap merindu bibirmu (Dee Rahman).

Kopi Jalanan

Perjamuan ini, aku tak mengerti, tapi anggur sedikit membuatku bersabar. (Dee Rahman).

Espresso Soda

Kamulah Espresso Soda yang paling manis di lidahku, Kekasih (Dee Rahman).

Cerry

Kau selalu menggoda dengan segarnya tatapanmu (Dee Rahman).

Dee Rahman

Untuk membuat kue seorang wanita tidak perlu berdandan feminin, yang penting dia jatuh cinta rasanya pasti hmmmm (Dee Rahman).

Senin, 22 Juni 2015

Cara Membuat Paspor Online (Malang)

Ceritanya saya habis bikin paspor online buat keperluan administrasi beasiswa, mau gak mau ya harus bikin paspor, saya pilih cara online. Buat yang mau bikin paspor online begini caranya;

1. Klik link berikut https://ipass.imigrasi.go.id:8443/xpasinet/faces/InetMenu.jsp
2. Klik Pra pemohon personal;













































paspor 1

3. Untuk jenis permohonan isi sesuai dengan keperluan pembuatan paspor. Jika pertama kali membuat paspor klik Baru- Paspor biasa;

paspor 2

4. Pilih jenis paspor yang ingin dibuat berdasarkan kegunaan anda membuat paspor. Jenis paspor dan kegunaannya adalah;
paspor 6 

5. Pilih lokasi kantor imigrasi tempat anda membuat paspor. Saya memilih Kanim Kelas II Malang yang berlokasi di Jalan Panji Suroso No 4 Malang;

paspor 3

6. Selanjutnya isikan data diri dan pastikan semua data yang bertanda * sudah terisi dengan benar. Untuk pekerjaan jika anda pelajar atau mahasiswa pilih Lainnya. Jika sudah klik Lanjut;
7. Selanjutnya akan muncul tampilan seperti ini;
paspor 4
Isikan data alamat dan keluarga dan klik lanjut, kemudian akan muncul perintah cek email.

8. Anda akan mendapat email dari SPRI yang berisi biaya pembuatan paspor yang harus ditransfer lewat bank dan lampiran file PDF Undangan Pembuatan Paspor;

9. Sesudah membayar pastikan di slip dari Bank BNI  terdapat Nomor Jurnal dan jangan sampai hilang karena Bukti Pembayaran harus diserahkan saat melakukan interview.

Aktivasi pendaftaran:
1. Kembali ke email notifikasi dari SPRI, kemudian klik Lanjut atau kilik link yang diberikan untuk melakukan aktivasi;

2. Di halaman aktivasi masukkan No jurnal Bank yang tertera di slip Bank;

3. Pilih jadwal dan lokasi kantor imigrasi untuk melakukan foto dan interview;

4. Anda akan mendapat email notifikasi kedua yang berisi lampiran file PDF Tanda Terima permohonan. Print filenya dan bawa saat anda melakukan interview.

Interview dan Foto di Kantor Imigrasi:
1. Karena pengurusan paspor dilakukan secara online jadi tidak perlu desak desakan dan rebutan kuota, anda tinggal datang sesuai jadwal yang sudah dipilih saat jam kerja;
2. Sebaiknya tidak menggunakan kemeja bewarna putih dan gunakan pakaian bebas sopan;
3. Saat mengantri di kantor imigrasi pastikan ikut bagian antrian online;
4. Dokumen yang harus dibawa:
a. Undangan dari file PDF email notifikasi kedua
b. Bukti pembayaran dari Bank BNI
c. KTP asli dan fotokopi KTP milik pribadi
d. Fotokopi KTP kedua orang tua
e. KK asli dan fotokopi
f. Akta Kelahiran/Ijazah asli dan fotokopi
g. Untuk anak berusia dibawah 17 tahun harus menyertakan surat Nikah kedua orang tua
h. Materai 6000
Catatan: sebaiknya membawa semua dokumen yang dibutuhkan asli dan fotokopi jadi ga perlu repot2 mencari tempat fotokopi di kantor imigrasi. Dan di Malang petugas biasanya meminta dokumen difotokopi dengan ukuran A4.
5. Jika dokumen sudah lengkap anda tinggal menunggu antrian untuk interview dan foto
6. Di kantor Imigrasi Kota Malang paspor dapat di ambil setelah 3 hari kerja, misala anda mengurus hari jum'at maka selesainya hari rabu.

sumber https://fabularita.wordpress.com/2014/11/04/cara-membuat-dan-mengajukan-paspor-online-di-malang/

Selasa, 17 Maret 2015

TEKANAN yang disebabkan si MUKA DUA

Sebelum menulis ini, saya browsing dulu tentang apa itu arti tekanan, kalau saya gak salah ingat tekanan ada di pelajaran fisika SMP, setelah saya pelajari lagi tentang tekanan ternyata saya semakin bingung, heuheuheu. Ketimbang saya malah gak jadi menulis dan akhirnya pesan yang ingin saya sampaikan malah tidak tersampaikan mending abaikan saja arti tekanan yang sebenarnya.

Katakanlah, kali ini saya sedang merasakan tekanan yang sebenarnya tidak terlalu dahsyat apalagi berat, wong hanya ngadepi orang bermuka dua, wong saya aja bermuka sepuluh alias Doso Muko, eh Doso Muko kan Rahwana ya kalau di cerita wayang, saya bermuka 9 aja deh... :D, saya bermuka sembilan itu lho biasa, gak memperlihatkan kalau saya punya sembilan muka, saya sebutkan ya..
1. Manis;
2. Cantik;
3. Ganteng;
4. Menggemaskan;
5. Jutek;
6. Jahat;
7. Konyol;
8. Suka ketawa;
9. Manis-manis idealis, realistis, plegmatis, melankolis, sanguinis, anuis, dll.

Tuh kan banyak...



TIPS MENGHADAPI ORANG BERMUKA DUA
1. CUEK
2. Kalau dia sudah melancarkan aksinya, langsung patahkan argumennya dengan tegas
3. Insting tetap di ON kan dengan kepekaan yang sangat tinggi
4. Kalau tidak ada pilihan lain, dengarkan saja, habis itu sudahi
5. Pasang headset, bernyanyilah...
6. Skak Mat
7. Pergi, jangan dekat-dekat orang bermuka dua, dekat-dekat orang bermuka sembilan saja :D

Semoga bermanfaat :) :) :)

Kamis, 12 Februari 2015

Bawahan vs Atasan

Bawahan tidak boleh komplain tentang apapun ke atasan, bawahan tidak boleh menyumbang ide apapun untuk kemajuan perusahaan, bawahan adalah tempat untuk disalah-salahkan, bawahan adalah tempat untuk dibodoh-bodohkan.

Catat, bawahan harus selalu bisa mengatasi apapun kekurangan yg terjadi di area masing-masing, jika seandainya ada produk yang cacat, perusahaan tidak mau tahu, yang mereka mau produk tersebut tetap laku dan tidak ada komplain dari siapapun juga dan pelanggan tetap berdatangan.

Orang yang tidak menghadapi pasar secara terus menerus tidak akan tahu betapa susahnya menghadapi customer apalagi customer yang nyocot, banyak maunya.

Jumat, 09 Januari 2015

Teori Inspirasi




Adakah yang pernah mengatakan "gak dapat ide", "gak dapat inspirasi", "buntu" dan lain sebagainya?
Pernahkah terpikir dari mana datangnya inspirasi?

Menurut saya, inspirasi selalu datang dari Tuhan dengan cara apa saja, bisa saja ketika kita  melihat burung beterbangan, bersahutan, atau ketika kita melihat senja, bertemu seseorang, dan lain sebagainya.

Tiba-tiba ide muncul dengan mudahnya untuk kita tuangkan dalam banyak bentuk, untuk kita tulis, untuk kita wujudkan dalam tindakan, untuk kita beri tahukan ke orang lain, dan lain sebagainya.

lalu, kenapa juga terkadang ketika kita bersusah payah mencari ide untuk kita tulis kita tiba-tiba merasa "tidak punya ide", "buntu" dan lain-lain.

Tahukah para pembaca kenapa?

Itu karena ketidak siapan, mungkin secara hati para pembaca sudah siap untuk menerima ide akan tetapi secara bentuk keterarutan para pembaca belum siap menerima, mungkin Tuhan bilang "lha mana bukumu?", "mana pulpenmu/", "mana alatmu untuk menulis ide yang akan Aku berikan padamu?", mungkin itulah sebab kita tidak dapat ide selama ini.

KESIAPAN

Kita jangan hanya meminta ide kepada Tuhan dengan tangan kosong, bawalah kertas, bawalah pulpen, atau kalau perlu bawalah laptop, itu baru namanya KESIAPAN menerima ide dari Tuhan.

Rabu, 07 Januari 2015

GREEN SCHOOL FESTIVAL, MENUJU KOTA MALANG HIJAU DIMULAI DARI SEKOLAH


Dengan diresmikannya “Haba Ecopark” di SMPN 8 Malang oleh Walikota Malang H. Moch Anton pada hari Rabu, 31 Desember 2014, maka berakhirlah seluruh rangkaian panjang kegiatan Green School Festival 2014. Haba Ecopark ini menjadi hadiah bagi juara-juara satu di kegiatan Green School Festival, berupa sebuah taman miniatur siklus ekologi di alam, di mana di dalamnya terdapat rangkaian mata rantai ekosistem, khususnya untuk ekosistem kupu-kupu dan capung. Di dalam ecopark ini dibangun kolam lengkap dengan tanaman air dan batu-batuan alam yang menjadi habitat bagi capung, ditanam tumbuhan-tumbuhan penghasil nektar sebagai makanan bagi kupu-kupu, dan beberapa tanaman yang disukai kupu-kupu untuk bertelur dan menjadi makanan bagi ulat kupu-kupu. Diharapkan Ecopark ini bisa menjadi media pembelajaran lingkungan hidup bagi siswa-siswa sekolah. Ecopark ini didesain dan dikerjakan oleh Andik Gondrong, seorang aktifis lingkungan hidup, mantan Ketua Umum pencinta alam Mapalipma IPM, yang saat ini sedang menggarap program konservasi berupa restorasi tanaman lokal di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Peresmian Haba Ecopark SMPN 8 Malang oleh walikota Malang H. Moch. AntonPeresmian Haba Ecopark SMPN 8 Malang oleh walikota Malang H. Moch. Anton

Green School Festival sendiri menjadi sebuah rangkaian kegiatan lingkungan hidup yang dalam dua tiga bulan ini banyak menghiasi berita di harian Jawa Pos Radar Malang. Banyak orang bertanya apa sebetulnya Green School Festival, apakah ini lomba lingkungan hidup, atau festival seni tentang lingkungan, atau apa? Wajar sekali pertanyaan-pertanyaan seperti itu muncul di masyarakat, termasuk juga hal ini menjadi pertanyaan di kalangan para aktifis maupun pegiat lingkungan hidup.

Lahirnya Green School Festival ini berasal dari tiga sumber inspirasi. Sumber pertama yaitu keinginan dari Walikota Malang H. Moch. Anton yang mengharapkan adanya sebuah agenda untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup sekolah-sekolah di kota Malang, yang disampaikan Walikota kepada Dinas Pendidikan Kota Malang. Sumber inspirasi kedua yaitu adanya keinginan dan komitmen dari Jawa Pos Radar Malang untuk bisa menjadi motor penggerak perubahan masyarakat kota Malang, khususnya dalam bidang pelestarian lingkungan hidup. Sumber ketiga adalah program dari lembaga Move Indonesia yang berkeinginan untuk menyebarluaskan metode pemetaan dan perencanaan pengelolaan lingkungan hidup.

Dari situlah akhirnya lahir sebuah konsep Green School Festival. Disebut sebagai “festival”, dan bukan disebut “lomba”, karena memang lomba hanyalah sebagai bagian kecil dari kegiatan ini, lomba hanya sebagai sebuah stimulan saja, yang lebih utama adalah pada bagaimana penyebarluasan metode pemetaan dan perencanaan lingkungan hidup untuk kemudian dipraktekkan oleh sekolah-sekolah dengan cara menggerakkan segenap komponen keluarga besar sekolah, dan bagaimana pergerakan-pergerakan itu bisa saling menginspirasi antara sekolah satu dan lainnya. Itulah ide dasar dari Green School Festival.

Maka dari itu, yang menjadi komponen utama dari Green School Festival ini adalah pada metode pembelajaran lingkungan hidup yang terintegrasi, mudah dipahami, mudah dipelajari, mudah disebarkan ulang, having fun (menyenangkan), dan menimbulkan semangat untuk belajar serta semangat berbagi. Tema lingkungan hidup selama ini biasanya menjadi tema yang berat, sehingga tidak banyak orang memiliki minat mempelajarinya. Namun di Green School Festival dikemaslah metode pembelajaran lingkungan hidup ini dengan cara yang menarik dan menyenangkan.

Workshop Green School Mapping di Hotel Wisata TidarWorkshop Green School Mapping di Hotel Wisata Tidar

Metode utama di Green School Festival kami beri judul Green School Mapping. Sebetulnya ini bukan metode yang sama sekali baru, namun merupakan gabungan dari beberapa metode yang dirangkum dan dimodifikasi ulang, disesuaikan dengan kebutuhan segmen peserta belajar. Metode-metode dasar yang menjadi sumber antara lain: metodeEcomapping (yang dikembangkan oleh Gesellschaft fur Internationale Zusammenarbeit, sebuah lembaga di Jerman yang salah satu fokusnya adalah di bidang pelestarian lingkungan hidup dunia), metode Green Map (metode yang diciptakan oleh Wendy Brawer dari Amerika yang kini komunitasnya telah berkembang menjadi komunitas Green Mapinternasional), metode Mapping Analysis (metode yang menjadi materi perkuliahan di jurusan Teknik Perencanaan Wilayah Kota), dan dikombinasikan dengan metode permainan anak-anak peta harta karun.

Jadi bisa disimpulkan metode Green School Mapping sendiri adalah cara untuk mempetakan masalah dan potensi lingkungan hidup di area sekolah. Pemetaan masalah dan potensi ini dibuat dalam 9 buah peta yang berbeda-beda bahasan isunya. Kemudian dari pemetaan ini dilakukan pembahasan lebih mendetail mengenai apa masalah ataupun potensi yang ada, lalu dilakukan pembahasan perencanaan aksi apa yang akan dilakukan untuk mengatasi permasalahan-permasalahan lingkungan hidup yang terpetakan, ataupun untuk peningkatan dari potensi-potensi yang sudah ada.
Adapun sembilan peta isu yang dibuat masing-masing membahas mengenai: isu energi, isu sampah, isu polusi udara, isu air dan limbah cair, isu tanah dan kontaminasi kimia, isu tanaman, isu resiko, isu keindahan, isu edukasi-informasi-inspirasi.

Isu energi menekankan pada pemetaan bagaimana penggunaan listrik dan bahan bakar yang hemat, isu sampah menekankan pada pemetaan lokasi-lokasi rawan sampah dan proses pemilahan serta pengolahan  sampah, isu polusi udara membahas pemetaan lokasi-lokasi yang seringkali mendapatkan polusi udara maupun bau tidak sedap, isu air dan limbah cair membahas pemetaan penggunaan air yang tidak hemat dan drainase buangan air, isu tanah dan kontaminasi kimia menekankan pemetaan area resapan air dan tanah-tanah yang tercemari sampah maupun limbah kimia, isu tanaman membahas pemetaan konsep tanaman fungsional yang ditanam di sekolah dan penataannya, isu resiko membahas tentang resiko lingkungan hidup dan resiko kesehatan ataupun resiko keselamatan, isu keindahan mengupas tentang pemetaan suasana dan tampilan sekolah serta penataan area, sedangkan isu edukasi-informasi-inspirasi membahas pemetaan tentang petunjuk maupun poster-poster informasi dan himbauan tentang lingkungan hidup yang dipasang untuk mengedukasi maupun menginspirasi siswa.

Workshop Green School Mapping di Hotel Wisata TidarWorkshop Green School Mapping di Hotel Wisata Tidar

Secara teknis, setiap sekolah menyiapkan peta sekolah yang digandakan sebanyak 9 peta untuk peta isu dan satu peta untuk peta kesimpulan. Kemudian dilakukanlah pengamatan, dan pada masing-masing peta isu tersebut ditandailah area-area di mana terdapat isu yang diamati baik berupa masalah ataupun potensi, kemudian dilakukan pembahasan mengenai seperti apa kondisi yang ada, apa penyebabnya, dan di-skoring seberapa berat masalahnya atau seberapa bagus potensinya, kemudian dibahas rencana aksi apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi permasalahan yang ada. Dari sembilan peta isu tersebut kemudian dilakukan langkah penyatuan peta menjadi sebuah peta kesimpulan akhir sebagai gabungan dari semua peta isu. Barulah kemudian dilakukan langkah-langkah teknis di lapangan sebagai bentuk pelaksanaan dari rencana aksi yang ditetapkan berdasarkan pemetaan yang ada.

Mengapa harus dipecah menjadi 9 isu adalah agar memudahkan pengamatan di lapangan. Satu peta satu isu. Setiap sekolah perlu membentuk 9 tim pengamatan. Masing-masing isu diamati oleh satu tim yang terdiri dari guru dan siswa. Dengan panduan materi yang didapatkan peserta dalam kegiatan workshop, maka tiap tim peta isu ini dapat melakukan pengamatan dengan tajam dan terukur.

Workshop Green School Mapping di Hotel Wisata TidarWorkshop Green School Mapping di Hotel Wisata Tidar

Panitia Green School Festival menyiapkan panduan-panduan berupa buku materi tertulis dan file-file penunjang berupa file digital. Selain itu diberikan pembekalan pada sekolah berupa kegiatan workshop yang dilaksanakan di Hotel Tidar pada tanggal 13-22 Oktober. Dalam workshop ini setiap sekolah mengirimkan 4 orang peserta, untuk SD dua orang guru dan dua siswa, untuk SMP-SMA-SMK satu orang guru dan tiga siswa. Setiap sekolah mendapatkan workshop selama satu hari, dan setiap harinya dilakukan workshop untuk sekitar 40 sekolah.

Di dalam workshop ini dilakukan pematerian mengenai apa itu metode Green School Mapping, dalam bentuk teori dan sekaligus dipraktekkan di lokasi workshop, mulai dari memetakan, merumuskan, sampai membuat rencana aksi. Kegiatan workshop yang diikuti oleh 153 SD, 27 SMP, 12 SMA dan 15 SMK ini, dikemas dengan metode eksplorasi otak kiri dan otak kanan, diselingi dengan pemutaran video dan beberapa game serta icebreakingyang lucu dan menyenangkan. Peserta workshop dengan antusias mengerjakan pemetaan, menuliskan permasalahan dan potensi lingkungan di atas kertas warna-warni, menggunting, mewarna, dan menghias peta agar terlihat menarik.

Selepas workshop, masing-masing peserta utusan sekolah ditugaskan untuk mensosialisasikan apa yang mereka dapat dalam workhop kepada guru dan siswa di sekolah masing-masing, kemudian bersama-sama dengan berbagai komponen sekolah dpraktekkanlah metode Green School Mapping ini secara utuh. Dari empat orang pesertaworkshop per sekolah, akhirnya mereka mensosialisasikan metode ini ke puluhan, bahkan ratusan siswa dan guru-guru di sekolahnya. Kemudian warga sekolah bergerak bersama untuk memetakan 9 isu lingkungan hidup ini, menganalisa apa masalah-masalah yang terjadi, menskoring seberapa berat masalahnya, membahas apa rencana aksi yang bisa dilakukan, sampai melakukan tindak lanjut dari rencana aksi ini.

Proses pembuatan Green School Mapping di sekolahProses pembuatan Green School Mapping di sekolah

Hasil dari peta per isu yang dibuat disatukan dalam sebuah peta kesimpulan. Peta kesimpulan inilah yang dikumpulkan oleh sekolah-sekolah peserta kepada panitia Green School Festival di Radar Malang, bersama bukti-bukti berupa CD dokumentasi foto proses yang dilakukan tiap sekolah di lapangan selama mereka mengerjakan Green School Mapping. Peta kesimpulan dan CD dokumentasi inilah yang menjadi bekal awal bagi dewan juri sebelum melakukan penjurian ke sekolah-sekolah peserta.

Semenjak tanggal 10 November sampai dengan 22 November 2014, dilakukanlah penjurian ke sekolah-sekolah peserta. Dibentuk 7 tim juri yang masing-masing tim terdiri dari 3 orang, dan masing-masing tim juri setiap harinya melakukan kunjungan penjurian ke 2-3 sekolah. Total didapatkan 131 SD, 24 SMP, 12 SMA dan 13 SMK yang akhirnya mengumpulkan persyaratan berupa Peta Kesimpulan dan CD Dokumentasi dan siap untuk dilakukan penjurian ke sekolah.

Dari proses penjurian di lapangan, ternyata bisa didapatkan banyak sekali temuan-temuan fakta yang menarik. Dari total 180 sekolah yang dijuri, terdapat cukup banyak program-program lingkungan hidup yang inspiratif. Beberapa catatan yang menarik untuk diperhatikan antara lain:
Untuk isu tanah, terdapat 62 sekolah yang memiliki biopori, dan 35 sekolah yang sudah memiliki sumur resapan. Di antara sekolah-sekolah tersebut tercatat rekor SMPN 10 memiliki 180 biopori dan 16 sumur resapan, serta SMPN 7 yang memiliki 115 biopori dan 6 sumur resapan. Ada pula sekolah SDN Plus Al-Kautsar yang mempertahankan 70% ruang terbuka hijau di lahannya.

Sementara untuk isu air terdapat 30 sekolah yang telah memiliki instalasi pengolahan air limbah, seperti pengolahan sisa air wudhu yang dimanfaatkan kembali untuk menyiram tanaman ataupun untuk kolam lele, adapula yang memiliki pengolahan air limbah laundry seperti di SMKN 2, maupun pemrosesan air limbah percetakan dan pemanfaatan limbah air AC untuk menyiram tanaman seperti yang dimiliki oleh SMKN 4, program air keran langsung minum di SMPN 8 Malang.

Penjurian Green School MappingPenjurian Green School Mapping

Untuk isu sampah, terdapat 77 sekolah memiliki program pembuatan kompos dengan beragam cara, mulai dari penggunaan alat komposting, penggunaan bakteri mikroorganisme lokal, pengkomposan dengan anaerob, dll. Ada pula 73 sekolah memiliki program produk daur ulang dan daur pakai, sebagai besar menjad bagian dari mata pelajaran prakarya, ataupun berupa bahan bekas yang dibuat menjadi alat peraga untuk mata pelajaran biologi seperti yang dikerjakan oleh SMAN 5 Malang. Demikian pula program Bank Sampah juga telah diterapkan oleh beberapa sekolah-sekolah peserta Green School Festival.

Untuk isu tanaman, ada 55 sekolah yang telah memiliki green house, 28 sekolah memiliki program tanaman hidroponik, 83 sekolah memiliki kebun tanaman obat keluarga, 20 sekolah memiliki hutan sekolah, 58 sekolah memiliki tanaman-tanaman penyerap polutan, 58 sekolah memiliki tanaman sayur organik, dan 108 sekolah memiliki koleksi tanaman buah.

Terkait dengan isu resiko dan isu sampah, terdapat 18 sekolah memiliki program kantin bebas plastik, artinya tidak dijual makanan ataupun minuman yang menimbulkan sampah plastik. Kemudian terdapat pula 28 sekolah yang memiliki program kantin bebas 5P (pemanis-pengenyal-pewarna-penyedap-pengawet buatan).

Untuk isu energi terdapat 6 sekolah yang memiliki program biogas, baik berupa biogas dari kotoran sapi maupun biogas yang diolah dari limbah kotoran manusia, seperti yang dimiliki SMAN 10 dan SDN Ketawang Gede,  dan beberapa sekolah memiliki program percontohan solar cell (listrik tenaga matahari), ada pula program pembatasan penggunaan kendaraan bermotor seperti yang dilakukan oleh SMAN 7 Malang dan SMAN 4 Malang.
Untuk pelibatan siswa terkait dengan program menjaga dan melestarikan lingkungan hidup di sekolah, terdapat 85 sekolah yang memiliki program satu hari dalam seminggu sebagai hari bersih-bersih, ada pula sekolah-sekolah yang memiliki program polisi lingkungan hidup, laskar lingkungan, program buang satu sampah wajib memungut 10 sampah (SMPN 9 Malang), program 5 menit berburu sampah pada jam istirahat (SMAN 9 Malang), modifikasi Green School Mapping menjadi Green Class Mapping (SMPN 13 Malang), dan lain-lain.

Dan masih banyak lagi program-program unik dan kreatif yang dilakukan oleh sekolah-sekolah. Seperti program wirausaha berbasis lingkungan hidup, program pemberian label nama-nama tanaman dan fungsinya,  program ternak cacing, budidaya lele, budidaya jamur tiram, program penggantian lampu hemat energi, dan lain-lain.

Dan untuk bisa saling menginspirasi dan saling memotivasi, dilakukan pula aktivitas kampanye di sosial media, baik melalui Facebook, Twitter, maupun Instagram. Beberapa sekolah terlihat cukup aktif dalam menginformasikan perkembangan proses Green School Mapping di sekolah mereka ini di sosial media, baik oleh siswa maupun oleh bapak dan ibu gurunya. Hal ini diharapkan bisa memacu sekolah-sekolah yang lain untuk tidak mau kalah, dan berkreasi lebih baik lagi.

Diksusi cafe ide dalam proses Green School Mapping di sekolahDiksusi cafe ide dalam proses Green School Mapping di sekolah

Namun, satu hal yang menjadi catatan penting dalam Green School Festival ini, yaitu dalam event yang berlangsung selama lebih dari dua bulan ini, lomba di sini bukanlah lomba sekolah terbagus, sekolah terlengkap, lomba sekolah terbersih ataupun sekolah terindah. Di dalam Green School Festival kriteria yang memiliki nilai terbesar adalah bagaimana proses Green School Mapping dapat dipahami dan diterapkan dalam pembuatan peta isu dan dalam perencanaan perbaikan lingkungan hidup, serta bagaimana keterlibatan sebanyak mungkin komponen sekolah dalam proses Green School Mapping ini.

Sekolah-sekolah yang paham dengan metode ini, justru akan terlihat mencantumkan banyak permasalahan lingkungan di dalam petanya, sementara sekolah yang tidak paham biasanya akan menyembunyikan masalah lingkungannya dan menampilkan peta yang seolah-olah tidak banyak masalah yang ada di sekolahnya. Padahal, untuk merencanakan pengelolaan lingkungan hidup haruslah dimulai dengan memetakan dan membedah masalahnya. Di sinilah cukup banyak sekolah yang salah dalam memahami metode ini. Beberapa sekolah menyembunyikan masalahnya, ataupun tidak melakukan proses pemetaan secara utuh, yang seharusnya mereka melakukan pembuatan 9 peta isu terlebih dahulu, baru membuat peta kesimpulan.

Beberapa sekolah juga masih memiliki pemahaman yang salah mengenai wujud kecintaan pada satwa, seperti adanya kandang yang diisi dengan burung-burung hias. Padahal ini sangatlah tidak tepat dari kacamata pelestarian lingkungan. Burung-burung hias rumahnya adalah di alam bebas, bukan di dalam kandang, terkecuali untuk burung-burung peliharaan seperti merpati, ayam, dan sejenisnya. Beberapa sekolah terpaksa mendapatkan nilai minus karena hal ini.

Proses aplikasi Green School Mapping di sekolahProses aplikasi Green School Mapping di sekolah

Secara umum, bisa dikatakan bahwa berbagai rangkaian aktivitas Green School Festival ini memang tidaklah seperti lomba-lomba lingkungan hidup lain pada umumnya. Hasil fisik akhir kondisi lingkungan hidup di sekolah tetap dinilai, namun bukanlah yang utama. Hal yang terutama adalah menekankan pada bagaimana proses pembelajaran materi lingkungan hidup ini bisa dipahami peserta workshop dan bisa tersosialisasikan di sekolah masing-masing, serta  bagaimana hal ini bergulir menjadi sebuah gerakan bersama seluruh komponen sekolah yaitu guru, siswa, bahkan di beberapa sekolah sampai melibatkan orang tua siswa. Perlu kita pahami bahwa sebenarnya sumber permasalahan lingkungan hidup yang terbesar adalah manusia, sedangkan wujud fisik lingkungan hidup yang bagus ataupun rusak hanyalah dampak dari bagaimana sumber daya manusia memahami dan mencintai lingkungan hidup. Inilah yang menjadi dasar berpikir Green School Festival.

Bila kita beracuan dari data kondisi lingkungan hidup di kota Malang dan sekitarnya, saat ini sampah yang dihasilkan oleh warga kota Malang sudah mencapai angka 650 ton setiap harinya, sementara untuk kondisi ruang terbuka hijau luasan yang tersisa di kota ini hanya tinggal 2,89% dari seluruh luasan kota Malang, sedangkan untuk kondisi sumber air kita dari 873 sumber air di wilayah Kabupaten Malang kondisi debit airnya kian hari semakin menurun, belum lagi kejadian hilangnya banyak mata air di kota Batu dari 111 mata air kini tinggal tersisa 54 mata air, dan masih banyak lagi permasalahan-permasalahan lingkungan hidup yang terus terjadi. Maka itu pemahaman tentang lingkungan hidup perlu ditanamkan pada seluruh masyarakat, khususnya disebarluaskan melalui dunia pendidikan, untuk melahirkan sumber daya manusia generasi-generasi muda terpelajar yang  mencintai dan mau bertindak menyelamatkan lingkungan hidup.

Proses aplikasi Green School Mapping di sekolahProses aplikasi Green School Mapping di sekolah

Akhir kata, kami sebagai panitia Green School Festival mengucapkan terima kasih banyak kepada segenap komponen sekolah yang telah berpartisipasi aktif dalam Green School Festival ini. Ucapan terimakasih juga kami sampaikan pada para juri yang telah bekerja keras melakukan penjurian ke sekolah-sekolah. Kami mengucapkan selamat kepada para sekolah pemenang, dan jangan patah semangat bagi sekolah-sekolah yang belum mendapatkan juara. Kami juga memohon maaf apabila masih banyak terdapat ketidaksempurnaan di sana-sini dalam pelaksanaan Green School Festival ini.

Semoga komitmen Walikota Malang untuk memperbaiki lingkungan hidup kota Malang dimulai dari sekolah dengan metode Green School Mapping ini bisa menjadi pondasi awal bagi dunia pendidikan untuk bisa mencetak generasi-generasi muda peserta didik yang peduli dan mencintai lingkungan hidup. Dan harapannya sebagai dampak dari itu semua adalah terwujudnya sekolah yang ramah lingkungan, sehat, serta memberi suasana nyaman dalam proses belajar dan mengajar.

Menuju kota Malang hijau dimulai dari sekolah.

Salam Lestari.


Catatan:
Pemenang-pemenang Green School Festival
Tingkat SD: SDN Blimbing 3 (juara 1), SDN Purwantoro 8 (juara 2), SDN Ketawang Gede (juara 3)
Tingkat SMP: SMPN 8 (juara 1), SMPN 9 (juara 2), SMPN 14 (juara 3)
Tingkat SMA: SMAN 7 (juara 1), SMAN 10 (juara 2), SMAN 4 (juara 3)
Tingkat SMK: SMKN 4 (juara 1), SMKN 13 (juara 2), SMKN 6 (juara 3)


Penulis:
Bachtiar Djanan Machmoed (Move Indonesia)