KOPI

Hai Kopi, Senyum berantakanmu selalu memenuhi hidupku, Hai Cangkir, Setiap hari aku tetap merindu bibirmu (Dee Rahman).

Kopi Jalanan

Perjamuan ini, aku tak mengerti, tapi anggur sedikit membuatku bersabar. (Dee Rahman).

Espresso Soda

Kamulah Espresso Soda yang paling manis di lidahku, Kekasih (Dee Rahman).

Cerry

Kau selalu menggoda dengan segarnya tatapanmu (Dee Rahman).

Dee Rahman

Untuk membuat kue seorang wanita tidak perlu berdandan feminin, yang penting dia jatuh cinta rasanya pasti hmmmm (Dee Rahman).

Selasa, 29 Januari 2013

Semakin aku berpikir kolam itu dangkal, semakin aku tenggelam

Itu cerita masa kecil yang tak pernah aku lupakan, aku hampir mati karena tenggelam
ketika itu aku berusia 10 tahun, waktu masih duduk di kelas empat Madrasah Ibtida'iyah
Aku tak pernah belajar berenang sebelumnya, tapi keinginan untuk bisa berenang sangat besar sekali, melebihi besarnya kolam itu
Aku tak pernah dibolehkan berenang di sana, karena alasan klasik seperti nanti habis berenang di saana takutnya kenapa-kenapa, takutnya terjadi apa-apa, takutnya, takutnya... akhirnya aku memang tenggelam
Saking kepinginnya aku belajar berenang di sana, sampai-sampai aku merengek menangis biar diperbolehkan (kebiasaan Dee kecil)
dan tiba-tiba aku ada di sana bersama kakekku, maksudnya aku berangkat ke sana, pemandian yang katanya penuh misteri itu, haha
untuk pertama kalinya aku melihat air sebegitu beningnya, air sebegitu menggiurkannya, melihat teman-teman sepantaranku meliuk-meliuk di dalam lubang mata air itu, mereka dengan fasih menggerakkan badan, tangan dan kakinya sehingga mereka bisa melaju dalam air.
Kolam itu dangkal sekali, hanya sepahaku kira-kira, siapa yang tak tergiur untuk melompat dengan gaya anjing menggonggong atau lumba-lumba menjerit, semua orang yang ada di sana sah sah saja melompat, bergerak, melaju di dalam air sesuka mereka, kenapa aku masih diam saja di pinggir kolam ini sambil bengong?
JEBUUUURRRR... tiba-tiba aku merasa sesak, saluran pernafasanku tertutup air, aku melompat-melompat dalam air seperti anak kecil setelah dibelikan barang yang diinginkannya, pantas saja tidak ada orang yang menolongku
semakin banyak air yang aku minum, semakin kenyang saja. tak ada juga orang yang menolongku
orang-orang duduk di pinggir-pinggir kolam pun diam saja meskipun mereka melihatku, bagaimana sih caranya ngasih tau mereka kalau aku sedang tenggelam?
Ya sudah, aku mengikhlaskan untuk mati saja, aku tak berusaha menghirup oksigen, aku tak berusaha melompat lompat di air, tenggelam saja mengikuti aliran air itu, tiba-tiba ada suara 'loh, anak itu tenggelam' dan orang itu menyelamatkanku
hhhhhhhh aku menarik nafas panjang setelah keluar dari air itu, terimakasih tuhan aku masih hidup.
Ternyata kolam itu dalam sekali, semakin aku perpikir kolam itu dangkal, semakin aku tenggelam
Kakekku tak bisa berenang, waktu itu beliau yang menenmaniku ke sana, tapi karena beliau tak bisa berenang akhirnya aku dibiarkan saja menelan air banyak.
teman-temanku yang jago berenang juga banyak, tapi mereka berlalu dengan kesenangannya sendiri
sejak saat itu aku putuskan untuk belajar berenang biar aku tak tenggelam lagi
dan sekarang aku bisa berenang

Minggu, 13 Januari 2013

Sumpah aku jago memaki

Pernahkah kalian marah-marah sampai mencela fisik seseorang? atau mencela kekurangan seseorang, misalnya 'Hei pendek, bla bla bla'
itu salah satu contoh, pernahkah?
Sumpah aku jago kalau hanya mencela seperti itu saja, aku biasanya memaki mbak Ozawa yang jangkung putih itu, 'Sampean iku pinter-pinter..., ayu...'
atau 'Dari pada kamu, kecantikanmu berbanding terbalik dengan kepintaranmu' atau 'Cantik enggak, pinter enggak, gila iya'
Jago kan aku? tapi mulutku bukan hanya untuk memaki dengan kata-kata kotor seperti preman pasar atau seperti kenek angkot di terminal, kurang elegan memaki yang seperti itu.
Orang gak sekolah juga bisa kalo hanya memaki seperti ini 'He Janc*k, awakmu iku ga duwe utek. utekmu secilik awakmu. pantes nggak iso mikir.'
mbok dibedakan cara memakinya dengan kenek angkot atau tukang parkir, biar kelihatan kalau kita itu berpendidikan, semester akhir lagi, perguruan tinggi negeri ternama lagi, jurusan keguruan lagi, wah wah wah... memprihatinkan